Ah, aku terkejut sekali mendengar apa yang dinyatakan teman
mahasiswa perbandingan agama itu. Seorang yang dulu lama mengecap kehidupan di
pesantren bersamaku. Pertanyaannya begitu menekan bathinku hingga mengharuskan
diriku menjawabnya. Aku merasa kasihan sekali melihatnya. Tapi, seharusnya kita
tidak menyalahkan seorang yang berpikir mencari jawaban.
Aku mencerna pertanyaan serta pernyataannya. Kurasakan malam mulai
membisu. Walau tampak sebagian teman masih merebus mie, sungguh malam sering
mengganggu perut para santri. Tapi, alhamdulillah aku sudah makan. Dan
kini ada seorang mahasiswa di sampingku. Teman lamaku. Kami duduk di depan
kamar sambil menyelami malam.
“Apa aku pantas menjawab pertanyaanmu ?.”
“Kenapa tidak, setidaknya kamu memberi sedikit pertimbangan bagiku.”
“Aku tidak banyak belajar tentang agama-agama sepertimu di kampus.
Aku hanya belajar di sini. Yang kutahu pasti, aku bisa masak mie. Hehehe ... .”
“Apa kamu tidak ragu dengan agama itu?.”
“Sama sekali aku tidak meragukannya.”
“Bagaimana kamu tidak ragu jika kamu tidak bisa menjawab
pertanyaanku?.”
“Baiklah, kalau kamu yang memintanya. Aku tidak akan menganggap
pertanyaanmu sebagai pertanyaan bodoh. Karena bukanlah suatu pertanyaan itu
bodoh jika kita tidak mampu menjawabnya.”
Dia mengajukan tiga pertanyaan malam itu.
“Apa benar Tuhan itu Maha Pengasih, Dia tahu siapa yang akan
menjadi ahli syurga dan neraka. Kenapa Dia harus repot-repot mengutus kita ke
dunia, sementara Dia berkuasa memasukkan kita ke syurga semuanya. Bukankah itu
mudah baginya. Bahkan Tuhan tidak bisa dianggap pengasih dengan menjerumuskan
satu manusia saja ke neraka?.”
“Pertanyaan lain, kenapa Tuhan memaksa kita menaruh takjub akan
setiap ciptaan-Nya. Alam raya ini, misalnya. Bukankah ini terlalu mudah
bagi-Nya. Ah, seorang petani tidak harus mengagumi dokter ahli bedah karena
operasinya, bukan? Karena itu sudah bidangnya.”
“Aku juga semakin ragu, kalau sebenarnya Tuhan itu ada atau
tidak?.”
Dia tampak bingung atas pertanyaan-pertanyaan yang bercokol di
kepalanya. Aku membiarkannya. Agar segala pertanyaan itu terus dimuntahkan.
“Baiklah. Kita mulai dari pertanyaanmu yang pertama. Aku
sederhanakan saja, jika Tuhan tahu semua hasil akhirnya. Dia tahu siapa yang masuk
syurga dan neraka. Kenapa Dia mengutus kita ke dunia ini. Begitu ‘kan?.”
“Ya, jika seandainya ada yang masuk neraka. Dia akan dikecewakan.
Bukankah Dia Maha Kuasa agar terhindar dari kekecewaan itu?.”
“Tuhan tidak akan kecewa atau merasa dirugikan jika ada yang masuk
neraka, shobat.”
“Apa maksudmu?.”
“Seperti jika kau memujinya berjuta-juta kali, tidak akan
sedikitpun bermanfaat untuk-Nya. Misalnya kau mengucapkan Allahu Akbar,
Allah Maha Besar. Apa itu akan menambah kebesaran-Nya. Tuhan sudah Maha Besar
sebelum kau mengucapkan itu. Meski kau tidak mengucapkannya pun Dia tetap Maha
Besar. Pujian yang kita panjatkan pada-Nya bermanfaat bagi kita sendiri.”
“Kalau begitu Tuhan itu keji, karena membiarkan menusia masuk
neraka?.”
“Bukan begitu shobat, masalahnya bukan pada Tuhan. Tapi pada
manusia itu sendiri. Manusia yang memilih diutus ke dunia ini. Itu tertera
dalam surat Al-Ahzaab (33):72, “Sesungguhnya
Kami telah menawarkan amanat kepada langit, bumi, dan gunung-gunung; tetapi
semuanya enggan memikul amanat itu dan mereka khawatir tidak akan
melaksanakannya (berat), lalu dipikullah amanat itu oleh manusia. Sungguh,
manusia itu sangat zhalim dan sangat bodoh”.
Aku mengambil nafas, “Manusia terlalu bodoh, karena ia telah
memilih untuk menanggung amanah itu. Menjalani ujiannya di dunia ini. Bahkan
Allah membuat perumpamaan agar manusia berpikir, “Sekiranya Kami turunkan Alquran ini kepada sebuah gunung, pasti
kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan takut kepada Allah. Dan
perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia agar mereka berpikir” Al-Hasyr (59):21. Tuhan berkata gunung pun akan hancur jika
menanggung amanah itu, tapi manusia mengambil amanah tersebut, manusia
menyanggupinya.”
“Tapi, aku tidak tahu kapan
aku mengambil keputusan untuk menjadi manusia?.”
“Bukan hanya kamu, aku pun begitu. Jika aku dan kau tahu kapan hal
itu terjadi, maka dimanakah letak ujiannya, shobat?. Contoh kecilnya begini,
jika di tanganmu telah ada kertas ujian dari dosenmu, dan kamu harus
menjawabnya. Lalu, apakah kamu akan protes bahwa kamu tidak usah ikut ujian itu
karena dosenmu berhak penuh atas kelulusanmu. Tidak kan?. Karena sebelumnya
kamu yang menginginkan ujian tersebut.”
Aku melanjutkan, “pada hari akhir nanti, ingatan itu akan
dikembalikan, dan bukan sekarang, karena ujiannya sedang berlangsung. Saat itu,
bagi mereka yang gagal menjalani ujian akan meminta satu kesempatan hidup
kembali untuk memperbaiki dirinya di dunia, tapi Tuhan berkata itu sudah
terlambat.
“Tapi Tuhan bisa menciptakan kondisi yang berbeda dan tidak harus
ada ujian ini?.”
“Tuhan telah melakukan hal itu, shobat. Itu terjadi pada malaikat.
Mereka semua tunduk. Tanpa kehendak lain. Tapi manusia diciptakan dengan
kehendak bebas yang menjadikan dirinya makhluk yang lebih baik.”
“Kenapa Tuhan tidak langsung menjadikan kita ahli syurga semuanya
dan kenapa pula Dia memberikan kita kehendak bebas?.”
“Karena manusia merupakan ciptaan-Nya yang paling baik, Dia
memberikan kehendak bebas itu. Allah telah menjadikan malaikat-malaikat yang
senantiasa tunduk pada-Nya, mereka tidak punya kehendak lain selain patuh.
Mereka adalah penghuni syurga. Kesimpulannya adalah kita sendiri telah memilih menjadi
manusia yang bersedia menanggung amanat Allah di dunia ini. Jika kita yang
memilih, lalu kita gagal, apakah kita akan menyalahkan-Nya? Kalau keadaannya
seperti itu, siapa yang keji, kita atau Tuhan?.”
“Aku cukup mengerti, kalau kita lah yang memilihnya sendiri. Sekarang
pertanyaan kedua?.”
“Oh itu, apa kita harus takjub dengan segala ciptaan-Nya, sementara
itu sangatlah mudah bagi Allah, begitu ‘kan?.”
“Butuh takjub untuk patuh.” Aku melanjutkan.
Temanku berkata, “Tuhan telah menciptakan alam raya ini untuk kita,
kemudian Dia berfirman, lihatlah langit, lihatlah bumi, dll. Tuhan memaksa kita
mengagumi segala ciptaan-Nya padahal itu sangatlah mudah bagi-Nya? Tinggal
ucapkan “kun” maka selesailah perkara.”
“Saya ambil contoh sederhana saja, jika Bapak Presiden memberimu
uang sebanyak 10 milyar, apakah kamu akan kagum atas pemberiannya?.”
“Tentunya aku tidak akan mengaguminya. Karena Pak Presiden itu kaya,
dan aku tidak meminta uang tersebut, kenapa aku harus mengaguminya?.” Tukasnya.
“Kalau begitu, pertanyaan bukan kenapa kamu harus kagum
dengan pemberian Pak Presiden, melainkan kenapa Pak Presiden
memberikan uang itu kepadamu?. Karena jika yang memberimu itu
adalah orang biasa, maka kau patut kagum. Karena Pak Presiden itu kaya, sangat
mudah baginya punya uang 10 milyar.”
“Aku belum mengerti dengan pernyataanmu.”
“Bayangkan, PAK PRESIDEN,” aku mengacung telunjuk ke atas, “PAK
PRESIDEN memberimu uang 10 milyar. Ingat yang memberimu itu bukan orang
biasa TAPI PAK PRESIDEN, kawan.” Aku menekan suara pada kata PAK PRESIDEN.
Dia berpikir, “Oh, jadi aku tidak harus mengagumi karena Pak
Presiden memberiku uang 10 milyar, tapi aku harus mengagumi karena PAK PRESIDEN
lah yang memberiku uang tersebut.”
“Alhamdulillah kamu sudah paham. Jadi, jika kamu tidak bisa
mengagumi segala pemberian-Nya lewat ciptaan fantastis ini, maka kamu harus
sadar dan kagum karena yang memberimu itu adalah ALLAH SWT. Karena DIA
adalah TUHAN SEMESTA ALAM ini.”
“Tinggal satu pertanyaan lagi, apakah Tuhan itu ada atau tidak?.”
“Baiklah, tentunya kamu tidak akan puas jika kujawab buktinya
adanya alam. Karena kamu akan bertanya apa buktinya jika alam ini belum
tercipta. Tentu pula, aku tidak bisa menjawab sesederhana teman-teman yang
lain, sebelum Allah menciptakan alam, Dia sudah menciptakan Fetti Verra, kakak
penyanyi Mbah Dukun, Alam.” Aku tersenyum.
“Lalu bagaimana jawabanmu?.” Teman mahasiswa tidak sabar dengan
jawaban yang akan kulontarkan.
“Sekarang, sebelum kujawab pertanyaanmu, aku ingin bertanya dulu.”
“Silahkan.”
“Sebagai manusia apa yang kamu rasakan jika mengingat-Nya?.”
“Aku bisa saja merasa tenang, takut, atau bahkan aku tidak
merasakan apa-apa?.”
“Jika kamu merasa tenang, pasti ada sebabnya, juga jika merasa
takut pun itu karena ada sebabnya. Itu sudah jelas menjawab pertanyaanmu kalau
Tuhan itu ada. Karena Tuhan penyebabnya. Tapi, jika kamu tidak merasakan
apa-apa, maka sungguh kamu harus mengakui kalau kamu bukanlah manusia, karena
manusia memiliki rasa tenang dan takut tersebut. Manusia tidak bisa berada di
antara rasa tenang dan takut. Sama halnya manusia tidak bisa memposisikan
dirinya dalam keadaan tidak bergerak dan diam. Bukankah begitu, shobat?.”
“Ya. Aku tahu, terima kasih.”
“Sama-sama. Jika kamu belum puas dengan jawaban-jawabanku. Maka
silahkan kamu tanyakan kepada orang yang memiliki pengetahuan yang mumpuni perihal
teologi untuk menjawab pertanyaanmu lebih spesifik lagi. Sedikit ingin
kuutarakan apa yang dikatakan oleh Francis Bacon bahwa sedikit pengetahuan
dapat menjadikan manusia atheis, sedangkan pengetahuan yang mendalam dapat
mengantarkan manusia pada Tuhan.
“Oh ya, saya jadi ingat pernah membaca “Wal ‘ilmu nurullah. Wa
nurullah la yu’tha li ‘ashi”, kalimat tepatnya aku kurang tahu, mungkin kamu
tahu?.”
“Aku juga lupa, shobat. Coba tanyakan pada teman yang lain tentang
kalimat itu. Mungkin ada yang bersedia membantu. Sekali lagi, yang kutahu aku
hanya bisa masak mie di sini. hahaha ... .”
Sekian.
*Diadaptasikan dari berbagai buku, video Dr. Zakir Naik, ceramah
serta referensi lainnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar