Rabu, 03 Februari 2016

Tentang Tuhan

Ah, aku terkejut sekali mendengar apa yang dinyatakan teman mahasiswa perbandingan agama itu. Seorang yang dulu lama mengecap kehidupan di pesantren bersamaku. Pertanyaannya begitu menekan bathinku hingga mengharuskan diriku menjawabnya. Aku merasa kasihan sekali melihatnya. Tapi, seharusnya kita tidak menyalahkan seorang yang berpikir mencari jawaban.
Aku mencerna pertanyaan serta pernyataannya. Kurasakan malam mulai membisu. Walau tampak sebagian teman masih merebus mie, sungguh malam sering mengganggu perut para santri. Tapi, alhamdulillah aku sudah makan. Dan kini ada seorang mahasiswa di sampingku. Teman lamaku. Kami duduk di depan kamar sambil menyelami malam.
“Apa aku pantas menjawab pertanyaanmu ?.”
“Kenapa tidak, setidaknya kamu memberi sedikit pertimbangan bagiku.”
“Aku tidak banyak belajar tentang agama-agama sepertimu di kampus. Aku hanya belajar di sini. Yang kutahu pasti, aku bisa masak mie. Hehehe ... .”
“Apa kamu tidak ragu dengan agama itu?.”
“Sama sekali aku tidak meragukannya.”
“Bagaimana kamu tidak ragu jika kamu tidak bisa menjawab pertanyaanku?.”
“Baiklah, kalau kamu yang memintanya. Aku tidak akan menganggap pertanyaanmu sebagai pertanyaan bodoh. Karena bukanlah suatu pertanyaan itu bodoh jika kita tidak mampu menjawabnya.”
Dia mengajukan tiga pertanyaan malam itu.
“Apa benar Tuhan itu Maha Pengasih, Dia tahu siapa yang akan menjadi ahli syurga dan neraka. Kenapa Dia harus repot-repot mengutus kita ke dunia, sementara Dia berkuasa memasukkan kita ke syurga semuanya. Bukankah itu mudah baginya. Bahkan Tuhan tidak bisa dianggap pengasih dengan menjerumuskan satu manusia saja ke neraka?.”
“Pertanyaan lain, kenapa Tuhan memaksa kita menaruh takjub akan setiap ciptaan-Nya. Alam raya ini, misalnya. Bukankah ini terlalu mudah bagi-Nya. Ah, seorang petani tidak harus mengagumi dokter ahli bedah karena operasinya, bukan? Karena itu sudah bidangnya.”
“Aku juga semakin ragu, kalau sebenarnya Tuhan itu ada atau tidak?.”
Dia tampak bingung atas pertanyaan-pertanyaan yang bercokol di kepalanya. Aku membiarkannya. Agar segala pertanyaan itu terus dimuntahkan.
“Baiklah. Kita mulai dari pertanyaanmu yang pertama. Aku sederhanakan saja, jika Tuhan tahu semua hasil akhirnya. Dia tahu siapa yang masuk syurga dan neraka. Kenapa Dia mengutus kita ke dunia ini. Begitu ‘kan?.”
“Ya, jika seandainya ada yang masuk neraka. Dia akan dikecewakan. Bukankah Dia Maha Kuasa agar terhindar dari kekecewaan itu?.”
“Tuhan tidak akan kecewa atau merasa dirugikan jika ada yang masuk neraka, shobat.”
“Apa maksudmu?.”
“Seperti jika kau memujinya berjuta-juta kali, tidak akan sedikitpun bermanfaat untuk-Nya. Misalnya kau mengucapkan Allahu Akbar, Allah Maha Besar. Apa itu akan menambah kebesaran-Nya. Tuhan sudah Maha Besar sebelum kau mengucapkan itu. Meski kau tidak mengucapkannya pun Dia tetap Maha Besar. Pujian yang kita panjatkan pada-Nya bermanfaat bagi kita sendiri.”
“Kalau begitu Tuhan itu keji, karena membiarkan menusia masuk neraka?.”
“Bukan begitu shobat, masalahnya bukan pada Tuhan. Tapi pada manusia itu sendiri. Manusia yang memilih diutus ke dunia ini. Itu tertera dalam surat Al-Ahzaab (33):72, “Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanat kepada langit, bumi, dan gunung-gunung; tetapi semuanya enggan memikul amanat itu dan mereka khawatir tidak akan melaksanakannya (berat), lalu dipikullah amanat itu oleh manusia. Sungguh, manusia itu sangat zhalim dan sangat bodoh”.  
Aku mengambil nafas, “Manusia terlalu bodoh, karena ia telah memilih untuk menanggung amanah itu. Menjalani ujiannya di dunia ini. Bahkan Allah membuat perumpamaan agar manusia berpikir, “Sekiranya Kami turunkan Alquran ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan takut kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia agar mereka berpikir” Al-Hasyr (59):21. Tuhan berkata gunung pun akan hancur jika menanggung amanah itu, tapi manusia mengambil amanah tersebut, manusia menyanggupinya.”
 “Tapi, aku tidak tahu kapan aku mengambil keputusan untuk menjadi manusia?.”
“Bukan hanya kamu, aku pun begitu. Jika aku dan kau tahu kapan hal itu terjadi, maka dimanakah letak ujiannya, shobat?. Contoh kecilnya begini, jika di tanganmu telah ada kertas ujian dari dosenmu, dan kamu harus menjawabnya. Lalu, apakah kamu akan protes bahwa kamu tidak usah ikut ujian itu karena dosenmu berhak penuh atas kelulusanmu. Tidak kan?. Karena sebelumnya kamu yang menginginkan ujian tersebut.”
Aku melanjutkan, “pada hari akhir nanti, ingatan itu akan dikembalikan, dan bukan sekarang, karena ujiannya sedang berlangsung. Saat itu, bagi mereka yang gagal menjalani ujian akan meminta satu kesempatan hidup kembali untuk memperbaiki dirinya di dunia, tapi Tuhan berkata itu sudah terlambat.
“Tapi Tuhan bisa menciptakan kondisi yang berbeda dan tidak harus ada ujian ini?.”
“Tuhan telah melakukan hal itu, shobat. Itu terjadi pada malaikat. Mereka semua tunduk. Tanpa kehendak lain. Tapi manusia diciptakan dengan kehendak bebas yang menjadikan dirinya makhluk yang lebih baik.”  
“Kenapa Tuhan tidak langsung menjadikan kita ahli syurga semuanya dan kenapa pula Dia memberikan kita kehendak bebas?.”
“Karena manusia merupakan ciptaan-Nya yang paling baik, Dia memberikan kehendak bebas itu. Allah telah menjadikan malaikat-malaikat yang senantiasa tunduk pada-Nya, mereka tidak punya kehendak lain selain patuh. Mereka adalah penghuni syurga. Kesimpulannya adalah kita sendiri telah memilih menjadi manusia yang bersedia menanggung amanat Allah di dunia ini. Jika kita yang memilih, lalu kita gagal, apakah kita akan menyalahkan-Nya? Kalau keadaannya seperti itu, siapa yang keji, kita atau Tuhan?.”
“Aku cukup mengerti, kalau kita lah yang memilihnya sendiri. Sekarang pertanyaan kedua?.”
“Oh itu, apa kita harus takjub dengan segala ciptaan-Nya, sementara itu sangatlah mudah bagi Allah, begitu ‘kan?.”
“Butuh takjub untuk patuh.” Aku melanjutkan.
Temanku berkata, “Tuhan telah menciptakan alam raya ini untuk kita, kemudian Dia berfirman, lihatlah langit, lihatlah bumi, dll. Tuhan memaksa kita mengagumi segala ciptaan-Nya padahal itu sangatlah mudah bagi-Nya? Tinggal ucapkan “kun” maka selesailah perkara.”
“Saya ambil contoh sederhana saja, jika Bapak Presiden memberimu uang sebanyak 10 milyar, apakah kamu akan kagum atas pemberiannya?.”
“Tentunya aku tidak akan mengaguminya. Karena Pak Presiden itu kaya, dan aku tidak meminta uang tersebut, kenapa aku harus mengaguminya?.” Tukasnya.
“Kalau begitu, pertanyaan bukan kenapa kamu harus kagum dengan pemberian Pak Presiden, melainkan kenapa Pak Presiden memberikan uang itu kepadamu?. Karena jika yang memberimu itu adalah orang biasa, maka kau patut kagum. Karena Pak Presiden itu kaya, sangat mudah baginya punya uang 10 milyar.
“Aku belum mengerti dengan pernyataanmu.”
“Bayangkan, PAK PRESIDEN,” aku mengacung telunjuk ke atas, “PAK PRESIDEN memberimu uang 10 milyar. Ingat yang memberimu itu bukan orang biasa TAPI PAK PRESIDEN, kawan.” Aku menekan suara pada kata PAK PRESIDEN.
Dia berpikir, “Oh, jadi aku tidak harus mengagumi karena Pak Presiden memberiku uang 10 milyar, tapi aku harus mengagumi karena PAK PRESIDEN lah yang memberiku uang tersebut.”
“Alhamdulillah kamu sudah paham. Jadi, jika kamu tidak bisa mengagumi segala pemberian-Nya lewat ciptaan fantastis ini, maka kamu harus sadar dan kagum karena yang memberimu itu adalah ALLAH SWT. Karena DIA adalah TUHAN SEMESTA ALAM ini.”
“Tinggal satu pertanyaan lagi, apakah Tuhan itu ada atau tidak?.”
“Baiklah, tentunya kamu tidak akan puas jika kujawab buktinya adanya alam. Karena kamu akan bertanya apa buktinya jika alam ini belum tercipta. Tentu pula, aku tidak bisa menjawab sesederhana teman-teman yang lain, sebelum Allah menciptakan alam, Dia sudah menciptakan Fetti Verra, kakak penyanyi Mbah Dukun, Alam.” Aku tersenyum.
“Lalu bagaimana jawabanmu?.” Teman mahasiswa tidak sabar dengan jawaban yang akan kulontarkan.
“Sekarang, sebelum kujawab pertanyaanmu, aku ingin bertanya dulu.”
“Silahkan.”
“Sebagai manusia apa yang kamu rasakan jika mengingat-Nya?.”
“Aku bisa saja merasa tenang, takut, atau bahkan aku tidak merasakan apa-apa?.”
“Jika kamu merasa tenang, pasti ada sebabnya, juga jika merasa takut pun itu karena ada sebabnya. Itu sudah jelas menjawab pertanyaanmu kalau Tuhan itu ada. Karena Tuhan penyebabnya. Tapi, jika kamu tidak merasakan apa-apa, maka sungguh kamu harus mengakui kalau kamu bukanlah manusia, karena manusia memiliki rasa tenang dan takut tersebut. Manusia tidak bisa berada di antara rasa tenang dan takut. Sama halnya manusia tidak bisa memposisikan dirinya dalam keadaan tidak bergerak dan diam. Bukankah begitu, shobat?.”
“Ya. Aku tahu, terima kasih.”
“Sama-sama. Jika kamu belum puas dengan jawaban-jawabanku. Maka silahkan kamu tanyakan kepada orang yang memiliki pengetahuan yang mumpuni perihal teologi untuk menjawab pertanyaanmu lebih spesifik lagi. Sedikit ingin kuutarakan apa yang dikatakan oleh Francis Bacon bahwa sedikit pengetahuan dapat menjadikan manusia atheis, sedangkan pengetahuan yang mendalam dapat mengantarkan manusia pada Tuhan.
“Oh ya, saya jadi ingat pernah membaca “Wal ‘ilmu nurullah. Wa nurullah la yu’tha li ‘ashi”, kalimat tepatnya aku kurang tahu, mungkin kamu tahu?.”
“Aku juga lupa, shobat. Coba tanyakan pada teman yang lain tentang kalimat itu. Mungkin ada yang bersedia membantu. Sekali lagi, yang kutahu aku hanya bisa masak mie di sini. hahaha ... .”
Sekian.
*Diadaptasikan dari berbagai buku, video Dr. Zakir Naik, ceramah serta referensi lainnya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar