Selasa, 28 April 2015

Surat Nadia (01)


Aku tidak mempermasalahkan jika perempuan menyatakan cintanya lebih dulu. Aku juga tidak menganggapnnya sebagai murahan. Justeru aku mengagumi mereka. Mereka bisa secara lantang menyatakan kejujuran. Mereka bisa melakukan hal yang seharusnya dilakukan. Mereka tidak ingin memendam cintanya yang sedemikian besar. Sebesar keberanian yang mereka tampakkan. Dan aku juga tidak menutup telinga kalau kebanyakan orang menganggap keputusan itu adalah hal tidak terhormat. 'Kenapa demikian ?' tanyaku pada diri sendiri.
"Karena aku mencintaimu." Itulah yang ia katakan padaku.
Aku yang sadar dengan yang ia lakukan begitu istimewa. Ia sangat perhatian kepadaku. Ia mengerti keadaanku. Ia telah banyak berkorban untukku. Ia sangat mengenal karakter dan kebiasaanku yang banyak diam. Bengung dengan buku di tangan. Menghabiskan buku berjam-jam. Aku adalah laki-laki yang tidak mudah terkesan dengan yang ada di hadapan. Aku akan selalu mempertanyakan atas semua kejaadian. Aku, aku bahkan mempertanyakan hal-hal yang nyata sekalipun. Aku bingung dengan diriku sendiri yang sering sekali sibuk dengan diri sendiri. Apakah istimewanya aku ?. Hingga ia menyatakan cinta kepadaku.
Oh, iya...
Aku lupa memperkenalkan namaku. Abduh. Ya, orang memanggilku dengan sebutan itu. Nama warisan dari orang tuaku dulu. Entah kenapa aku dinamakan Abduh, aku juga tidak tahu. Dan aku sangat menyukai nama itu. 
Sampai saat kumenulis tulisan ini, aku ingat jelas kejadian tiga tahun itu. Kenangan itu masih terasa basah. Wajahnya masih jelas saat ia diam pasrah. Aku merindukannya dan aku ingin minta maaf padanya.
Tiga tahun yang lalu...
Saat setelah ia mengatakan rasanya cintanya. Aku menerimanya. Dan ia menjadi kekasihku. Kekasih yang selalu bersedia melakukan apa saja yang aku mau. Hingga waktu berjalan dan rasa masih seperti yang lalu. Aku ingin mencintainya seperti ia mencintaiku. Aku ingin berkorban dan membuatnya bahagia tapi aku tak bisa. Aku ingin jujur dalam cintaku seperti saat aku kagum akan kejujurannya menyatakan cinta kepadaku. Aku ingin berani bertindak sebagaimana keberaniannya menentang kebiasaan orang sekampungku.
Orang berkata perempuan tidak selayaknya bertindak sebagaimana laki-laki. Memakai pakaian seperti laki-laki. Memiliki keseharian seperti laki-laki. Mereka benar-benar meletakkan perempuan dalam kurung dengan jeruji besinya. Kasihan sekali melihat perempuan seperti itu.
Satu dari perempuan-perempuan itu. Dengan mengenakan pakaian ala kadarnnya. Kerudung menutup kepalanya. Ungu kerudungnya menambah keindahan pada bola matanya. Menghias elok wajahnya. Namun kejadian yang menunggu tidak akan bersikap sopan kepadanya. Seumpama ‘sopan’ yang dikatakan warga untuknya. 
Ia diseret dari dalam rumahku. Warga menemukannnya ada di dalam rumahku tengah malam. Warga berteriak di depan rumah. Mereka memaksa masuk. Pintu rumahku didobrak. Roboh.. Pintu rumahku jatuh berantakan. Kaca rumahku hancur berkeping-keping. Aku juga kebingungan menghadapi ini. Nadia, dibanting saja tubuh itu di halaman rumahku. Tubuhnya mejadi bulan-bulanan warga
“Dasar perempuan tidak tahu malu. Kenapa tidak kau jual saja tubuhmu sekalian jika kau masih saja berlagak seperti itu.”
“Iya, kau memang anak yang pintar. Pendidikanmu tinggi. Sekolahmu dimana-mana. Namun dimanakah letak pendidikanmu jika mengerti akan kebiasaan masyarakatmu saja tidak  bisa. Dasar pelacur !.” Teriak yang lain.
“Kenapa kamu datang lagi kesini jika hanya mendatangkan bencana di kampung ini hah !.” Maki yang lain.
“Apakah di tempat kau belajar tidak pernah diajari etika bermasyakat atau memang itu karena kau merasa lebih pintar dari pada kami yang tak  berpendidikan. Sungguh yang kau lakukan itu memalukan.” Teriak seorang lagi.
“Aku merasa kasihan terhadapmu. Cantik-cantik tapi kelakuanmu begitu picik. Munafik. Berapa orang yang melamarmu dengan baik-baik tapi kau tampik. Ah, kau sungguh membuatku sangat jijik, cuih... !.” Seorang gadis meludahi mukanya.
Nadia. Ya... namanya Nadia. Nadia sangat tertekan atas kejadian yang menimpa. Nadia tidak bisa berbuat apa-apa. Nadia, oh... Nadia, ia hanya diam saja. Mengelap ludah dengan ujung kerudungnya. Orang berkeliling dan habis-habisan mengatakan Nadia adalah perempuan yang tengah menjual harga dirinya.
Nadia diam seribu bahasa. Matanya memerah dikatakan seperti itu. Air mata itu menetes perlahan dan menderas. Mengikuti deritanya yang keras. Nadia sudah tidak bisa lagi berpikir keras. Tenaganya terkuras. Matanya kian memanas.
“Bug.”
Sebongkah batu bata menghantam kepalanya. Darah merembes pada kerudung ungunya. Nadia berusaha berdiri. Nadia ingin bisa menata hati. Nadia iangin tersenyum dan membuang benci. Nadia, oh... Nadia, Ia jatuk ambruk. Kepalanya berdarah. Malam ini adalah saksi atas kejadian ini. Langit tengah melihatnya. Bintang adalah jutaan pasang mata bidadari yang bersedih dengan peristiwa ini. Bidadari yang menangis meratapi cinta yang dipandang dengan begitu sinis.
Aku berlari menghampiri tubuh Nadia. Aku sangat membenci semua orang yang ada di sini. Aku tidak  terima jika mereka memperlakukan wanita sekejam ini. Apakah mereka itu adalah malaikat suci. Kurengkuh tubuh Nadia. Tercium bau darah yang masih segar. Darah itu mengaliri wajahnya yang teduh. Matanya tertutup. Mulutnya terkatup. Mulut yang selalu berani berteriak menentang ketidakjujuran.
“Abduh, apa yang kau lakukan ?!.” Seorang meneriakiku. Memegang dan menyeretku agar tidak menyentuh Nadia. “Biarkan dia, kau sungguh bodoh jika menolong perempuan jalang ini.”
Aku tidak sudih dengan tangan yang mecoba menarikku. Aku ingin Nadia. Aku ingin dia. Aku ingin melihatnya tersenyum. Aku ingin melihatnya berjalan di depan rumahku lagi. Aku ini Nadia bukan pertolongan mereka. Nadia, oh... Nadia. Ia terluka dan menutup mata. Aku berjanji akan membuatnya bahagia. Aku tidak akan lagi membiarkannya menanggung ini sendirian. Aku tidak mau. Aku akan melakukan segala yang ia mau. Aku akan memberikan apa yang ia perlu. Aku akan memberikan semua hidupku padanya. Aku tidak mau kehilangan Nadia-ku. Aku ingin ia merasa bangga mempunyai calon suami sepertiku. Aku ingin ia sadar. Aku ingin dia bangun.
“Mas... Maafkan aku yang telah banyak membuatmu malu selama ini. Jika yang kuperbuat ini salah maafkan aku, Mas. Maafkanlah aku... . Hanya  ini yang bisa aku berikan padamu. Aku mencinntaimu, Mas.” Itulah kata terakhirnya.
*****
Mengenai siapa aku bagi Nadia dan bagaimana sebenarnya Nadia dan cintanya, silahkan tunggu pada tulisan selanjutnya.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar