Minggu, 11 Oktober 2015

Surat Nadia (02)

Malam mencekam kian menakutkan. Api amarah bergolak. Nadia-ku tidak sadarkan diri. Darah deras bercucuran. Hatiku perih melihatnya seperti ini. Kuangkat kepalanya ke pangkuanku. Pertama kali aku khawatir kehilangan seorang perempuan. Aku hanya mengenal ibuku dalam dunia ini. Beliau lah yang selama ini kucintai. Tak ada perempuan lain. Kututup erat luka di kepala Nadia supaya tidak banyak mengeluarkan darah.
Malam itu Nadia bertamu ke rumahku. Agama membimbingku tidak seharusnya lelaki berduaan bersama wanita bukan muhrim. Adat juga mengikatku, tak ada toleransi bagi yang berlaku demikian. Mereka akan diusir. Itu terbukti beberapa tahun lalu dua sejoli ditemukan berduaan di perkebunan jauh dari pemukiman. Mereka disiksa dan kemudian diusir. Di lemparkan ke tempat berbeda. Entah seperti apa nasibnya sekarang. Dan kini, cerita tersebut sedang menimpaku. Berduaan meski di rumah, karena ibuku sedang menginap di rumah kakek.
Nadia membawa buku-buku. Ia ingin aku membaca dan suatu saat mendiskusikannya. Ia menilai hanya aku yang bisa diajak bicara tentang semua ini. Manusia-manusia di sini sangat erat mengikat perempuan. Ini membuat hati Nadia jengah. Ia ingin berontak melawan arus. Nadia melihat banyak penderitaan dialami perempuan kampung. Mereka dipaksa menikah oleh orang tuanya. Tak ada pilihan lain bagi perempuan. Keputusan orang tua adalah yang terbaik, karena mereka memilih yang tepatbagi anak-anaknya. Cinta bagi mereka merupakan urusan yang sekian. Kewajiban sudah terlaksana jika mereka menikahkan para anak gadis dengan pilihannya. Inilah jaminan bahagia.
Dan …
Perempuan itu makhluk nomor dua. Akal mereka lemah. Tak bisa diandalkan. Kebanyakan mengandalkan air mata untuk mengatasi masalah. Sejauh apapun mereka bekerja keras pasti kembali pada urusan dapur, sumur dan kasur. Sebaiknya mereka berdiam diri di rumah saja. Tidak usah kemana-mana. Ini lebih aman. Mereka akan terlindungi. Aman dari kebiadaban zaman. Menyelamatkan mereka lahir dan bathin.
Cukuplah belajar mengaji dan sekolah dekat keluarga. Lihatlah, kehidupan di luar sana ! Banyak gadis hamil di luar nikah. Kabur dari rumah dengan pacarnya meninggalkan orangtua yang membesarkan mereka. Bukan cinta jika harus menyakiti. Perempuan lemah dengan yang mereka dengar. Pergaulan menjerumuskan mereka. Melenakan mereka dengan kebanggaan. Bahkan kebanyakan pelajar sudah tidak perawan lagi. Ini salah siapa ? Siapa yang bertanggungjawab atas semua ini ? Akankah kita membiarkannya begitu saja ? Tidakkah menakutkan sekali jika menimpa pada anak gadis kita ? Na’udzubillah min dzalik.
Ah, kita terlalu bodoh dan kolot, begitulah kata ‘zaman sekarang’. Kita tertinggal jauh dari peradaban. Entah peradaban macam apa yang membuat kita bodoh hingga banyak gadis terlantar. Malu atas maraknya pemerkosaan sampai mereka menjual diri karena putus asa. Zaman apakah yang berkata kita kolot saat di jalanan pemuda-pemudi saling bercumbu tak tahu malu.    Banyak bayi dibuang di pinggir jalan. Anak membunuh orangtuanya. Kakek-nenek yang dilemparkan dari rumahnya. Atau sebegitu dungukah kita yang berhadapan bahwa perjaka atau perawan cuma seputar alat kelamin saja. Kehormatan ditukar dengan kenikmatan sementara. Bagaimana mungkin kita berkata; ‘inilah peradaban’, di antara kenistaan yang merajalela itu.
Demikianlah maksud mereka. Penduduk tempat ini.
“Abduh, bawa Nadia ke tempat saya.” Seorang wanita cantik menghampiriku. Dia adalah bidan yang berugas di tempatku. Tak ada seorang pun yang bisa melarangnya. Dia harus dihormati, karena dia adalah tamu. Wanita yang sudah banyak membantu penduduk.
Tatap kebencian menyatu pada kami bertiga. Kubopong tubuh Nadia mengikuti Bu Eli. Tertatih-tatih.
Prak.
Sebongkah kayu menghantam kepalaku dari belakang. Keras. Terasa kepalaku pusing. Seorang lelaki tambun memukulku. Ia tidak terima dengan yang kulakukan terhadap Nadia. Aku tidak boleh membela seorang yang membuka jalan pembebasan kaum perempuan. Itu keterlaluan sekaligus membahayakan.Mereka sudah lama menjaga anak gadis dan tidak harus kehilangan karena pemahaman yang ditanamkan Nadia.
Tatapanku kabur. Tubuhku mengejang. Melemas. Dengan cepat Bu Eli merengkuh tubuh Nadia yang hampir jatuh dari tanganku. Kurasakan ada aliran hangat di belakang kepalaku. Aku sudah tidak kuat lagi. Ambruk.
“Pergilah, Bu. Bawalah Nadia dari sini.” Kataku.
Aku masih bisa melihat bagaimana Bu Eli tertatih membawa tubuh Nadia. Meninggalkanku yang masih sadar. Semua orang hanya menatap. Tak peduli. Aku berusaha bangkit. Sakit. Kupaksakan hingga tekad menguatkan tubuhku. Dan …
Prak.
Kembali lelaki tambun menghantamku. Aku roboh. Seluruh tulang punggung terasa ngilu. Masih saja semuadiam menatap. Karena aku tontonan bagi mereka. Tetap kupaksakan untuk bangkit. Namun, lelaki tambun melihatku seperti maling yang menghabiskan semua isi rumahnya. Ia menghajarku lagi. Aku tidak boleh kalah. Aku harus menemani Nadia-ku. Aku harus ada di dekatnya.
Setiap kubangkit, lelaki tambun akan menghantam punggungku dengan bongkahan kayu. Berkali-kali. Tulang-tulangku searsa remuk dibuatnya. Darah menutupi penglihatanku yang semakin kabur.
“Sudahlah, biarkan Abduh pergi.” Seorang lagi menahan lelaki tambun yang sudah siap mengangkat kayu berlumur darahku.
Aku melangkah lunglai menuju tempat Bu Eli. Pikiranku kalut. Takut hal buruk menimpa Nadia. Terus kulankahkan kakiku.
*****
“Abduh mana Bu ?.” Tanya Nadia yang sudah sadar.
 “Ibu, Abduh mana.” Tanyanya lagi. Dan masih saja Bu Eli diam.
Nadia merusaha bangkit. Dia takut terjadi apa-apa. Semua ini salahnya. Dialah yang memaksa Abduh mengizinkan masuk rumahnya.
“Jangan terlalu banyak bergerak. Kamu istirahat saja, Nadia.” Ujar Bu Eli menasihati.
“Aku ingin bertemu Abduh, Bu. Kumohon bawa aku kepadanya.” Teriak gelisah Nadia.
“Abduh baik-baik saja. Dia pasti ke sini. Kamu tunggu saja.” Bu Eli menenangkan.
“Aku khawatir, Bu. Aku ingin segera bertemu dengannya. Seharusnya aku menanggung ini sendirian. Abduh tidak salah apa-apa. Aku yang meminta izin masuk rumahnya. Aku berlama-lama karena harus menjelaskan maksud kedatanganku. Karena malam, aku memintanya menutup pintu, malu dilihat orang-orang. Hingga seorang melaporkan keberadaanku pada penduduk.” Nadia menjelaskan.
“Sebaiknya kamu tidak usah banyak bicara dulu, Nadia. Tenangkan dirimu.” Ujar Bu Eli.
Pintu terbuka. Aku masuk. Ingin secepatnya mengetahui keadaan Nadia, tapi luka ingin mencegahku begitu agresif. Bu Eli terkejut melihatku datang. Pakaianku berlumuran darah. Bajuku sobek. Seperti seorang habis dikeroyok. Bu Eli bingung, apa harus mengobati lukaku lebih dahulu atau membiarkan diriku bertemu dengan Nadia.
“Mas Abduh.” Nadia kaget. Ia ingin bangkit menyambutku. Atau lebih tepatnya, memastikan keadaanku dan kenapa seperti ini. Kepala Nadia dibalut perban. Sepertinya ia masih sangat parah. Matanya bengkak. Ada bagian rambutnya yang dipotong dan tertutup kapas. Lebam wajahnya masih kentara.
“Aku baik-baik saja, Nadia.” Cepat kuhampiri Nadia. Tetaplah berbaring, kamu masih sakit, jangan dipaksakan, demikian maksudku.
“Maafkan aku, Mas. Ini semua salahku. Aku lah penyebab kekacauan ini.”
Ingin rasanya kupeluk agar Nadia-ku kembali tenang. Menggenggam tangannya, dan berkata bahwa aku ada di sini menemaninya. Namun nurani melarangku. Kubiarkan Nadia menangis. Melihat tubuhku yang mengenaskan. Meratapi semua yang terjadi. Biarlah jalan terjal. Biarlah sakit begitu perih. Biar air mata mengalir. Biarlah mata bengkak. Biarlah derita berkepanjangan. Biarlah menyiksa. Biarlah aku tersiksa. Aku akan selalu menemaninya. Bersama Nadia-ku.
*****
Pagi datang. Cerah tapi sunyi. Indah namun asing. Entah kejadian apa lagi yang menunggu. Aku dan Nadia pulang dari tempat Bu Eli. Sengaja aku membawa Nadia kembali ke rumahku. Akan sangan buruk jika dia harus sendiri. Di jalanan aku merasa ada sekian mata menelanjangiku. Ah, aku sudah tidak peduli lagi. Aku sudah siap menghadapi kemungkinan yang akan terjadi. Perbuatan mereka sudah di luar batas. Menyiksa perempuan lemah. Jauh dari adat yang selama ini mereka pegang teguh; melindungi kaum perempuan. Mereka telah berlaku brutal terhadap Nadia. Dan aku tidak akan membiarkannya terjadi lagi. Akan kuhadapi mereka. Bahkan, nyawa pun akan kukorbankan untuk gadis ini. Nadia-ku.
Nyeri kepalaku masih menyiksa. Bu Eli sudah mengobatinya tadi malam. Ngilu badanku memaksa untuk cepat istirahat. Tapi aku tidak ingin terjadi hal buruk pada Nadia. Aku harus tetap terjaga. Masalah tidak akan selesai secepat ini. Mereka sangat membenci Nadia. Anak bau kencur  yang berani melawan alur. Nadia ingin menghilangkan kungkungan perempuan, atau lebih tepatnya, membiarkan mereka memilih hiudpnya sendiri.
Setan tengah mengobarkan api amarah. Penduduk kampung pasti telah merencanakan sesuatu. Menghukum kami yang berduaan malam itu. Oh, sungguh cepat dan tepat dalam sangkaan. Lelaki dan wanita berdua dalam rumah. Tidak ada ikatan keluarga. Dengan pintu tertutup. Lama berduaan di sana. Malam-malam pula. Sedang apalagi ? Berani sekali melakukan itu, sama saja dengan cari mati. Sudah jangan lama-lama, cepat dan simpulkan bahwa mereka berdua sedang melakukan hal tidak wajar. Yang terjadi, maka terjadilah.
“Kalian ditunggu di balai desa.”
Rasanya pagi ini akan gempar. Warga berkerumun di balai desa. Setiap sorot mata tertuju padaku dan Nadia. Nadia melangkah tertunduk. Kami bagaikan sepasang binatang yang digelinding ke tempat pemenggalan dan pantas mati. Begitu hinanya kami hingga seorang berteriak bahwa kami benar-benar bagaikan binatang. Tidak menghargai kehormatan diri sendiri. Apa ini tidak keterlaluan. Prasangka mereka sungguh sangat kejam. Lebih baik sebongkah batu menghantam kepalaku seperti kemarin daripada harus mendengar hardikan mereka.
Dan benar saja, sebongkah batu mendarat di pelipisku.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar