Rabu, 03 Februari 2016

Tentang Tuhan

Ah, aku terkejut sekali mendengar apa yang dinyatakan teman mahasiswa perbandingan agama itu. Seorang yang dulu lama mengecap kehidupan di pesantren bersamaku. Pertanyaannya begitu menekan bathinku hingga mengharuskan diriku menjawabnya. Aku merasa kasihan sekali melihatnya. Tapi, seharusnya kita tidak menyalahkan seorang yang berpikir mencari jawaban.
Aku mencerna pertanyaan serta pernyataannya. Kurasakan malam mulai membisu. Walau tampak sebagian teman masih merebus mie, sungguh malam sering mengganggu perut para santri. Tapi, alhamdulillah aku sudah makan. Dan kini ada seorang mahasiswa di sampingku. Teman lamaku. Kami duduk di depan kamar sambil menyelami malam.
“Apa aku pantas menjawab pertanyaanmu ?.”
“Kenapa tidak, setidaknya kamu memberi sedikit pertimbangan bagiku.”
“Aku tidak banyak belajar tentang agama-agama sepertimu di kampus. Aku hanya belajar di sini. Yang kutahu pasti, aku bisa masak mie. Hehehe ... .”
“Apa kamu tidak ragu dengan agama itu?.”
“Sama sekali aku tidak meragukannya.”
“Bagaimana kamu tidak ragu jika kamu tidak bisa menjawab pertanyaanku?.”
“Baiklah, kalau kamu yang memintanya. Aku tidak akan menganggap pertanyaanmu sebagai pertanyaan bodoh. Karena bukanlah suatu pertanyaan itu bodoh jika kita tidak mampu menjawabnya.”
Dia mengajukan tiga pertanyaan malam itu.
“Apa benar Tuhan itu Maha Pengasih, Dia tahu siapa yang akan menjadi ahli syurga dan neraka. Kenapa Dia harus repot-repot mengutus kita ke dunia, sementara Dia berkuasa memasukkan kita ke syurga semuanya. Bukankah itu mudah baginya. Bahkan Tuhan tidak bisa dianggap pengasih dengan menjerumuskan satu manusia saja ke neraka?.”
“Pertanyaan lain, kenapa Tuhan memaksa kita menaruh takjub akan setiap ciptaan-Nya. Alam raya ini, misalnya. Bukankah ini terlalu mudah bagi-Nya. Ah, seorang petani tidak harus mengagumi dokter ahli bedah karena operasinya, bukan? Karena itu sudah bidangnya.”
“Aku juga semakin ragu, kalau sebenarnya Tuhan itu ada atau tidak?.”
Dia tampak bingung atas pertanyaan-pertanyaan yang bercokol di kepalanya. Aku membiarkannya. Agar segala pertanyaan itu terus dimuntahkan.
“Baiklah. Kita mulai dari pertanyaanmu yang pertama. Aku sederhanakan saja, jika Tuhan tahu semua hasil akhirnya. Dia tahu siapa yang masuk syurga dan neraka. Kenapa Dia mengutus kita ke dunia ini. Begitu ‘kan?.”
“Ya, jika seandainya ada yang masuk neraka. Dia akan dikecewakan. Bukankah Dia Maha Kuasa agar terhindar dari kekecewaan itu?.”
“Tuhan tidak akan kecewa atau merasa dirugikan jika ada yang masuk neraka, shobat.”
“Apa maksudmu?.”
“Seperti jika kau memujinya berjuta-juta kali, tidak akan sedikitpun bermanfaat untuk-Nya. Misalnya kau mengucapkan Allahu Akbar, Allah Maha Besar. Apa itu akan menambah kebesaran-Nya. Tuhan sudah Maha Besar sebelum kau mengucapkan itu. Meski kau tidak mengucapkannya pun Dia tetap Maha Besar. Pujian yang kita panjatkan pada-Nya bermanfaat bagi kita sendiri.”
“Kalau begitu Tuhan itu keji, karena membiarkan menusia masuk neraka?.”
“Bukan begitu shobat, masalahnya bukan pada Tuhan. Tapi pada manusia itu sendiri. Manusia yang memilih diutus ke dunia ini. Itu tertera dalam surat Al-Ahzaab (33):72, “Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanat kepada langit, bumi, dan gunung-gunung; tetapi semuanya enggan memikul amanat itu dan mereka khawatir tidak akan melaksanakannya (berat), lalu dipikullah amanat itu oleh manusia. Sungguh, manusia itu sangat zhalim dan sangat bodoh”.  
Aku mengambil nafas, “Manusia terlalu bodoh, karena ia telah memilih untuk menanggung amanah itu. Menjalani ujiannya di dunia ini. Bahkan Allah membuat perumpamaan agar manusia berpikir, “Sekiranya Kami turunkan Alquran ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan takut kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia agar mereka berpikir” Al-Hasyr (59):21. Tuhan berkata gunung pun akan hancur jika menanggung amanah itu, tapi manusia mengambil amanah tersebut, manusia menyanggupinya.”
 “Tapi, aku tidak tahu kapan aku mengambil keputusan untuk menjadi manusia?.”
“Bukan hanya kamu, aku pun begitu. Jika aku dan kau tahu kapan hal itu terjadi, maka dimanakah letak ujiannya, shobat?. Contoh kecilnya begini, jika di tanganmu telah ada kertas ujian dari dosenmu, dan kamu harus menjawabnya. Lalu, apakah kamu akan protes bahwa kamu tidak usah ikut ujian itu karena dosenmu berhak penuh atas kelulusanmu. Tidak kan?. Karena sebelumnya kamu yang menginginkan ujian tersebut.”
Aku melanjutkan, “pada hari akhir nanti, ingatan itu akan dikembalikan, dan bukan sekarang, karena ujiannya sedang berlangsung. Saat itu, bagi mereka yang gagal menjalani ujian akan meminta satu kesempatan hidup kembali untuk memperbaiki dirinya di dunia, tapi Tuhan berkata itu sudah terlambat.
“Tapi Tuhan bisa menciptakan kondisi yang berbeda dan tidak harus ada ujian ini?.”
“Tuhan telah melakukan hal itu, shobat. Itu terjadi pada malaikat. Mereka semua tunduk. Tanpa kehendak lain. Tapi manusia diciptakan dengan kehendak bebas yang menjadikan dirinya makhluk yang lebih baik.”  
“Kenapa Tuhan tidak langsung menjadikan kita ahli syurga semuanya dan kenapa pula Dia memberikan kita kehendak bebas?.”
“Karena manusia merupakan ciptaan-Nya yang paling baik, Dia memberikan kehendak bebas itu. Allah telah menjadikan malaikat-malaikat yang senantiasa tunduk pada-Nya, mereka tidak punya kehendak lain selain patuh. Mereka adalah penghuni syurga. Kesimpulannya adalah kita sendiri telah memilih menjadi manusia yang bersedia menanggung amanat Allah di dunia ini. Jika kita yang memilih, lalu kita gagal, apakah kita akan menyalahkan-Nya? Kalau keadaannya seperti itu, siapa yang keji, kita atau Tuhan?.”
“Aku cukup mengerti, kalau kita lah yang memilihnya sendiri. Sekarang pertanyaan kedua?.”
“Oh itu, apa kita harus takjub dengan segala ciptaan-Nya, sementara itu sangatlah mudah bagi Allah, begitu ‘kan?.”
“Butuh takjub untuk patuh.” Aku melanjutkan.
Temanku berkata, “Tuhan telah menciptakan alam raya ini untuk kita, kemudian Dia berfirman, lihatlah langit, lihatlah bumi, dll. Tuhan memaksa kita mengagumi segala ciptaan-Nya padahal itu sangatlah mudah bagi-Nya? Tinggal ucapkan “kun” maka selesailah perkara.”
“Saya ambil contoh sederhana saja, jika Bapak Presiden memberimu uang sebanyak 10 milyar, apakah kamu akan kagum atas pemberiannya?.”
“Tentunya aku tidak akan mengaguminya. Karena Pak Presiden itu kaya, dan aku tidak meminta uang tersebut, kenapa aku harus mengaguminya?.” Tukasnya.
“Kalau begitu, pertanyaan bukan kenapa kamu harus kagum dengan pemberian Pak Presiden, melainkan kenapa Pak Presiden memberikan uang itu kepadamu?. Karena jika yang memberimu itu adalah orang biasa, maka kau patut kagum. Karena Pak Presiden itu kaya, sangat mudah baginya punya uang 10 milyar.
“Aku belum mengerti dengan pernyataanmu.”
“Bayangkan, PAK PRESIDEN,” aku mengacung telunjuk ke atas, “PAK PRESIDEN memberimu uang 10 milyar. Ingat yang memberimu itu bukan orang biasa TAPI PAK PRESIDEN, kawan.” Aku menekan suara pada kata PAK PRESIDEN.
Dia berpikir, “Oh, jadi aku tidak harus mengagumi karena Pak Presiden memberiku uang 10 milyar, tapi aku harus mengagumi karena PAK PRESIDEN lah yang memberiku uang tersebut.”
“Alhamdulillah kamu sudah paham. Jadi, jika kamu tidak bisa mengagumi segala pemberian-Nya lewat ciptaan fantastis ini, maka kamu harus sadar dan kagum karena yang memberimu itu adalah ALLAH SWT. Karena DIA adalah TUHAN SEMESTA ALAM ini.”
“Tinggal satu pertanyaan lagi, apakah Tuhan itu ada atau tidak?.”
“Baiklah, tentunya kamu tidak akan puas jika kujawab buktinya adanya alam. Karena kamu akan bertanya apa buktinya jika alam ini belum tercipta. Tentu pula, aku tidak bisa menjawab sesederhana teman-teman yang lain, sebelum Allah menciptakan alam, Dia sudah menciptakan Fetti Verra, kakak penyanyi Mbah Dukun, Alam.” Aku tersenyum.
“Lalu bagaimana jawabanmu?.” Teman mahasiswa tidak sabar dengan jawaban yang akan kulontarkan.
“Sekarang, sebelum kujawab pertanyaanmu, aku ingin bertanya dulu.”
“Silahkan.”
“Sebagai manusia apa yang kamu rasakan jika mengingat-Nya?.”
“Aku bisa saja merasa tenang, takut, atau bahkan aku tidak merasakan apa-apa?.”
“Jika kamu merasa tenang, pasti ada sebabnya, juga jika merasa takut pun itu karena ada sebabnya. Itu sudah jelas menjawab pertanyaanmu kalau Tuhan itu ada. Karena Tuhan penyebabnya. Tapi, jika kamu tidak merasakan apa-apa, maka sungguh kamu harus mengakui kalau kamu bukanlah manusia, karena manusia memiliki rasa tenang dan takut tersebut. Manusia tidak bisa berada di antara rasa tenang dan takut. Sama halnya manusia tidak bisa memposisikan dirinya dalam keadaan tidak bergerak dan diam. Bukankah begitu, shobat?.”
“Ya. Aku tahu, terima kasih.”
“Sama-sama. Jika kamu belum puas dengan jawaban-jawabanku. Maka silahkan kamu tanyakan kepada orang yang memiliki pengetahuan yang mumpuni perihal teologi untuk menjawab pertanyaanmu lebih spesifik lagi. Sedikit ingin kuutarakan apa yang dikatakan oleh Francis Bacon bahwa sedikit pengetahuan dapat menjadikan manusia atheis, sedangkan pengetahuan yang mendalam dapat mengantarkan manusia pada Tuhan.
“Oh ya, saya jadi ingat pernah membaca “Wal ‘ilmu nurullah. Wa nurullah la yu’tha li ‘ashi”, kalimat tepatnya aku kurang tahu, mungkin kamu tahu?.”
“Aku juga lupa, shobat. Coba tanyakan pada teman yang lain tentang kalimat itu. Mungkin ada yang bersedia membantu. Sekali lagi, yang kutahu aku hanya bisa masak mie di sini. hahaha ... .”
Sekian.
*Diadaptasikan dari berbagai buku, video Dr. Zakir Naik, ceramah serta referensi lainnya.


Minggu, 11 Oktober 2015

Surat Nadia (02)

Malam mencekam kian menakutkan. Api amarah bergolak. Nadia-ku tidak sadarkan diri. Darah deras bercucuran. Hatiku perih melihatnya seperti ini. Kuangkat kepalanya ke pangkuanku. Pertama kali aku khawatir kehilangan seorang perempuan. Aku hanya mengenal ibuku dalam dunia ini. Beliau lah yang selama ini kucintai. Tak ada perempuan lain. Kututup erat luka di kepala Nadia supaya tidak banyak mengeluarkan darah.
Malam itu Nadia bertamu ke rumahku. Agama membimbingku tidak seharusnya lelaki berduaan bersama wanita bukan muhrim. Adat juga mengikatku, tak ada toleransi bagi yang berlaku demikian. Mereka akan diusir. Itu terbukti beberapa tahun lalu dua sejoli ditemukan berduaan di perkebunan jauh dari pemukiman. Mereka disiksa dan kemudian diusir. Di lemparkan ke tempat berbeda. Entah seperti apa nasibnya sekarang. Dan kini, cerita tersebut sedang menimpaku. Berduaan meski di rumah, karena ibuku sedang menginap di rumah kakek.
Nadia membawa buku-buku. Ia ingin aku membaca dan suatu saat mendiskusikannya. Ia menilai hanya aku yang bisa diajak bicara tentang semua ini. Manusia-manusia di sini sangat erat mengikat perempuan. Ini membuat hati Nadia jengah. Ia ingin berontak melawan arus. Nadia melihat banyak penderitaan dialami perempuan kampung. Mereka dipaksa menikah oleh orang tuanya. Tak ada pilihan lain bagi perempuan. Keputusan orang tua adalah yang terbaik, karena mereka memilih yang tepatbagi anak-anaknya. Cinta bagi mereka merupakan urusan yang sekian. Kewajiban sudah terlaksana jika mereka menikahkan para anak gadis dengan pilihannya. Inilah jaminan bahagia.
Dan …
Perempuan itu makhluk nomor dua. Akal mereka lemah. Tak bisa diandalkan. Kebanyakan mengandalkan air mata untuk mengatasi masalah. Sejauh apapun mereka bekerja keras pasti kembali pada urusan dapur, sumur dan kasur. Sebaiknya mereka berdiam diri di rumah saja. Tidak usah kemana-mana. Ini lebih aman. Mereka akan terlindungi. Aman dari kebiadaban zaman. Menyelamatkan mereka lahir dan bathin.
Cukuplah belajar mengaji dan sekolah dekat keluarga. Lihatlah, kehidupan di luar sana ! Banyak gadis hamil di luar nikah. Kabur dari rumah dengan pacarnya meninggalkan orangtua yang membesarkan mereka. Bukan cinta jika harus menyakiti. Perempuan lemah dengan yang mereka dengar. Pergaulan menjerumuskan mereka. Melenakan mereka dengan kebanggaan. Bahkan kebanyakan pelajar sudah tidak perawan lagi. Ini salah siapa ? Siapa yang bertanggungjawab atas semua ini ? Akankah kita membiarkannya begitu saja ? Tidakkah menakutkan sekali jika menimpa pada anak gadis kita ? Na’udzubillah min dzalik.
Ah, kita terlalu bodoh dan kolot, begitulah kata ‘zaman sekarang’. Kita tertinggal jauh dari peradaban. Entah peradaban macam apa yang membuat kita bodoh hingga banyak gadis terlantar. Malu atas maraknya pemerkosaan sampai mereka menjual diri karena putus asa. Zaman apakah yang berkata kita kolot saat di jalanan pemuda-pemudi saling bercumbu tak tahu malu.    Banyak bayi dibuang di pinggir jalan. Anak membunuh orangtuanya. Kakek-nenek yang dilemparkan dari rumahnya. Atau sebegitu dungukah kita yang berhadapan bahwa perjaka atau perawan cuma seputar alat kelamin saja. Kehormatan ditukar dengan kenikmatan sementara. Bagaimana mungkin kita berkata; ‘inilah peradaban’, di antara kenistaan yang merajalela itu.
Demikianlah maksud mereka. Penduduk tempat ini.
“Abduh, bawa Nadia ke tempat saya.” Seorang wanita cantik menghampiriku. Dia adalah bidan yang berugas di tempatku. Tak ada seorang pun yang bisa melarangnya. Dia harus dihormati, karena dia adalah tamu. Wanita yang sudah banyak membantu penduduk.
Tatap kebencian menyatu pada kami bertiga. Kubopong tubuh Nadia mengikuti Bu Eli. Tertatih-tatih.
Prak.
Sebongkah kayu menghantam kepalaku dari belakang. Keras. Terasa kepalaku pusing. Seorang lelaki tambun memukulku. Ia tidak terima dengan yang kulakukan terhadap Nadia. Aku tidak boleh membela seorang yang membuka jalan pembebasan kaum perempuan. Itu keterlaluan sekaligus membahayakan.Mereka sudah lama menjaga anak gadis dan tidak harus kehilangan karena pemahaman yang ditanamkan Nadia.
Tatapanku kabur. Tubuhku mengejang. Melemas. Dengan cepat Bu Eli merengkuh tubuh Nadia yang hampir jatuh dari tanganku. Kurasakan ada aliran hangat di belakang kepalaku. Aku sudah tidak kuat lagi. Ambruk.
“Pergilah, Bu. Bawalah Nadia dari sini.” Kataku.
Aku masih bisa melihat bagaimana Bu Eli tertatih membawa tubuh Nadia. Meninggalkanku yang masih sadar. Semua orang hanya menatap. Tak peduli. Aku berusaha bangkit. Sakit. Kupaksakan hingga tekad menguatkan tubuhku. Dan …
Prak.
Kembali lelaki tambun menghantamku. Aku roboh. Seluruh tulang punggung terasa ngilu. Masih saja semuadiam menatap. Karena aku tontonan bagi mereka. Tetap kupaksakan untuk bangkit. Namun, lelaki tambun melihatku seperti maling yang menghabiskan semua isi rumahnya. Ia menghajarku lagi. Aku tidak boleh kalah. Aku harus menemani Nadia-ku. Aku harus ada di dekatnya.
Setiap kubangkit, lelaki tambun akan menghantam punggungku dengan bongkahan kayu. Berkali-kali. Tulang-tulangku searsa remuk dibuatnya. Darah menutupi penglihatanku yang semakin kabur.
“Sudahlah, biarkan Abduh pergi.” Seorang lagi menahan lelaki tambun yang sudah siap mengangkat kayu berlumur darahku.
Aku melangkah lunglai menuju tempat Bu Eli. Pikiranku kalut. Takut hal buruk menimpa Nadia. Terus kulankahkan kakiku.
*****
“Abduh mana Bu ?.” Tanya Nadia yang sudah sadar.
 “Ibu, Abduh mana.” Tanyanya lagi. Dan masih saja Bu Eli diam.
Nadia merusaha bangkit. Dia takut terjadi apa-apa. Semua ini salahnya. Dialah yang memaksa Abduh mengizinkan masuk rumahnya.
“Jangan terlalu banyak bergerak. Kamu istirahat saja, Nadia.” Ujar Bu Eli menasihati.
“Aku ingin bertemu Abduh, Bu. Kumohon bawa aku kepadanya.” Teriak gelisah Nadia.
“Abduh baik-baik saja. Dia pasti ke sini. Kamu tunggu saja.” Bu Eli menenangkan.
“Aku khawatir, Bu. Aku ingin segera bertemu dengannya. Seharusnya aku menanggung ini sendirian. Abduh tidak salah apa-apa. Aku yang meminta izin masuk rumahnya. Aku berlama-lama karena harus menjelaskan maksud kedatanganku. Karena malam, aku memintanya menutup pintu, malu dilihat orang-orang. Hingga seorang melaporkan keberadaanku pada penduduk.” Nadia menjelaskan.
“Sebaiknya kamu tidak usah banyak bicara dulu, Nadia. Tenangkan dirimu.” Ujar Bu Eli.
Pintu terbuka. Aku masuk. Ingin secepatnya mengetahui keadaan Nadia, tapi luka ingin mencegahku begitu agresif. Bu Eli terkejut melihatku datang. Pakaianku berlumuran darah. Bajuku sobek. Seperti seorang habis dikeroyok. Bu Eli bingung, apa harus mengobati lukaku lebih dahulu atau membiarkan diriku bertemu dengan Nadia.
“Mas Abduh.” Nadia kaget. Ia ingin bangkit menyambutku. Atau lebih tepatnya, memastikan keadaanku dan kenapa seperti ini. Kepala Nadia dibalut perban. Sepertinya ia masih sangat parah. Matanya bengkak. Ada bagian rambutnya yang dipotong dan tertutup kapas. Lebam wajahnya masih kentara.
“Aku baik-baik saja, Nadia.” Cepat kuhampiri Nadia. Tetaplah berbaring, kamu masih sakit, jangan dipaksakan, demikian maksudku.
“Maafkan aku, Mas. Ini semua salahku. Aku lah penyebab kekacauan ini.”
Ingin rasanya kupeluk agar Nadia-ku kembali tenang. Menggenggam tangannya, dan berkata bahwa aku ada di sini menemaninya. Namun nurani melarangku. Kubiarkan Nadia menangis. Melihat tubuhku yang mengenaskan. Meratapi semua yang terjadi. Biarlah jalan terjal. Biarlah sakit begitu perih. Biar air mata mengalir. Biarlah mata bengkak. Biarlah derita berkepanjangan. Biarlah menyiksa. Biarlah aku tersiksa. Aku akan selalu menemaninya. Bersama Nadia-ku.
*****
Pagi datang. Cerah tapi sunyi. Indah namun asing. Entah kejadian apa lagi yang menunggu. Aku dan Nadia pulang dari tempat Bu Eli. Sengaja aku membawa Nadia kembali ke rumahku. Akan sangan buruk jika dia harus sendiri. Di jalanan aku merasa ada sekian mata menelanjangiku. Ah, aku sudah tidak peduli lagi. Aku sudah siap menghadapi kemungkinan yang akan terjadi. Perbuatan mereka sudah di luar batas. Menyiksa perempuan lemah. Jauh dari adat yang selama ini mereka pegang teguh; melindungi kaum perempuan. Mereka telah berlaku brutal terhadap Nadia. Dan aku tidak akan membiarkannya terjadi lagi. Akan kuhadapi mereka. Bahkan, nyawa pun akan kukorbankan untuk gadis ini. Nadia-ku.
Nyeri kepalaku masih menyiksa. Bu Eli sudah mengobatinya tadi malam. Ngilu badanku memaksa untuk cepat istirahat. Tapi aku tidak ingin terjadi hal buruk pada Nadia. Aku harus tetap terjaga. Masalah tidak akan selesai secepat ini. Mereka sangat membenci Nadia. Anak bau kencur  yang berani melawan alur. Nadia ingin menghilangkan kungkungan perempuan, atau lebih tepatnya, membiarkan mereka memilih hiudpnya sendiri.
Setan tengah mengobarkan api amarah. Penduduk kampung pasti telah merencanakan sesuatu. Menghukum kami yang berduaan malam itu. Oh, sungguh cepat dan tepat dalam sangkaan. Lelaki dan wanita berdua dalam rumah. Tidak ada ikatan keluarga. Dengan pintu tertutup. Lama berduaan di sana. Malam-malam pula. Sedang apalagi ? Berani sekali melakukan itu, sama saja dengan cari mati. Sudah jangan lama-lama, cepat dan simpulkan bahwa mereka berdua sedang melakukan hal tidak wajar. Yang terjadi, maka terjadilah.
“Kalian ditunggu di balai desa.”
Rasanya pagi ini akan gempar. Warga berkerumun di balai desa. Setiap sorot mata tertuju padaku dan Nadia. Nadia melangkah tertunduk. Kami bagaikan sepasang binatang yang digelinding ke tempat pemenggalan dan pantas mati. Begitu hinanya kami hingga seorang berteriak bahwa kami benar-benar bagaikan binatang. Tidak menghargai kehormatan diri sendiri. Apa ini tidak keterlaluan. Prasangka mereka sungguh sangat kejam. Lebih baik sebongkah batu menghantam kepalaku seperti kemarin daripada harus mendengar hardikan mereka.
Dan benar saja, sebongkah batu mendarat di pelipisku.


Selasa, 28 April 2015

Surat Nadia (01)


Aku tidak mempermasalahkan jika perempuan menyatakan cintanya lebih dulu. Aku juga tidak menganggapnnya sebagai murahan. Justeru aku mengagumi mereka. Mereka bisa secara lantang menyatakan kejujuran. Mereka bisa melakukan hal yang seharusnya dilakukan. Mereka tidak ingin memendam cintanya yang sedemikian besar. Sebesar keberanian yang mereka tampakkan. Dan aku juga tidak menutup telinga kalau kebanyakan orang menganggap keputusan itu adalah hal tidak terhormat. 'Kenapa demikian ?' tanyaku pada diri sendiri.
"Karena aku mencintaimu." Itulah yang ia katakan padaku.
Aku yang sadar dengan yang ia lakukan begitu istimewa. Ia sangat perhatian kepadaku. Ia mengerti keadaanku. Ia telah banyak berkorban untukku. Ia sangat mengenal karakter dan kebiasaanku yang banyak diam. Bengung dengan buku di tangan. Menghabiskan buku berjam-jam. Aku adalah laki-laki yang tidak mudah terkesan dengan yang ada di hadapan. Aku akan selalu mempertanyakan atas semua kejaadian. Aku, aku bahkan mempertanyakan hal-hal yang nyata sekalipun. Aku bingung dengan diriku sendiri yang sering sekali sibuk dengan diri sendiri. Apakah istimewanya aku ?. Hingga ia menyatakan cinta kepadaku.
Oh, iya...
Aku lupa memperkenalkan namaku. Abduh. Ya, orang memanggilku dengan sebutan itu. Nama warisan dari orang tuaku dulu. Entah kenapa aku dinamakan Abduh, aku juga tidak tahu. Dan aku sangat menyukai nama itu. 
Sampai saat kumenulis tulisan ini, aku ingat jelas kejadian tiga tahun itu. Kenangan itu masih terasa basah. Wajahnya masih jelas saat ia diam pasrah. Aku merindukannya dan aku ingin minta maaf padanya.
Tiga tahun yang lalu...
Saat setelah ia mengatakan rasanya cintanya. Aku menerimanya. Dan ia menjadi kekasihku. Kekasih yang selalu bersedia melakukan apa saja yang aku mau. Hingga waktu berjalan dan rasa masih seperti yang lalu. Aku ingin mencintainya seperti ia mencintaiku. Aku ingin berkorban dan membuatnya bahagia tapi aku tak bisa. Aku ingin jujur dalam cintaku seperti saat aku kagum akan kejujurannya menyatakan cinta kepadaku. Aku ingin berani bertindak sebagaimana keberaniannya menentang kebiasaan orang sekampungku.
Orang berkata perempuan tidak selayaknya bertindak sebagaimana laki-laki. Memakai pakaian seperti laki-laki. Memiliki keseharian seperti laki-laki. Mereka benar-benar meletakkan perempuan dalam kurung dengan jeruji besinya. Kasihan sekali melihat perempuan seperti itu.
Satu dari perempuan-perempuan itu. Dengan mengenakan pakaian ala kadarnnya. Kerudung menutup kepalanya. Ungu kerudungnya menambah keindahan pada bola matanya. Menghias elok wajahnya. Namun kejadian yang menunggu tidak akan bersikap sopan kepadanya. Seumpama ‘sopan’ yang dikatakan warga untuknya. 
Ia diseret dari dalam rumahku. Warga menemukannnya ada di dalam rumahku tengah malam. Warga berteriak di depan rumah. Mereka memaksa masuk. Pintu rumahku didobrak. Roboh.. Pintu rumahku jatuh berantakan. Kaca rumahku hancur berkeping-keping. Aku juga kebingungan menghadapi ini. Nadia, dibanting saja tubuh itu di halaman rumahku. Tubuhnya mejadi bulan-bulanan warga
“Dasar perempuan tidak tahu malu. Kenapa tidak kau jual saja tubuhmu sekalian jika kau masih saja berlagak seperti itu.”
“Iya, kau memang anak yang pintar. Pendidikanmu tinggi. Sekolahmu dimana-mana. Namun dimanakah letak pendidikanmu jika mengerti akan kebiasaan masyarakatmu saja tidak  bisa. Dasar pelacur !.” Teriak yang lain.
“Kenapa kamu datang lagi kesini jika hanya mendatangkan bencana di kampung ini hah !.” Maki yang lain.
“Apakah di tempat kau belajar tidak pernah diajari etika bermasyakat atau memang itu karena kau merasa lebih pintar dari pada kami yang tak  berpendidikan. Sungguh yang kau lakukan itu memalukan.” Teriak seorang lagi.
“Aku merasa kasihan terhadapmu. Cantik-cantik tapi kelakuanmu begitu picik. Munafik. Berapa orang yang melamarmu dengan baik-baik tapi kau tampik. Ah, kau sungguh membuatku sangat jijik, cuih... !.” Seorang gadis meludahi mukanya.
Nadia. Ya... namanya Nadia. Nadia sangat tertekan atas kejadian yang menimpa. Nadia tidak bisa berbuat apa-apa. Nadia, oh... Nadia, ia hanya diam saja. Mengelap ludah dengan ujung kerudungnya. Orang berkeliling dan habis-habisan mengatakan Nadia adalah perempuan yang tengah menjual harga dirinya.
Nadia diam seribu bahasa. Matanya memerah dikatakan seperti itu. Air mata itu menetes perlahan dan menderas. Mengikuti deritanya yang keras. Nadia sudah tidak bisa lagi berpikir keras. Tenaganya terkuras. Matanya kian memanas.
“Bug.”
Sebongkah batu bata menghantam kepalanya. Darah merembes pada kerudung ungunya. Nadia berusaha berdiri. Nadia ingin bisa menata hati. Nadia iangin tersenyum dan membuang benci. Nadia, oh... Nadia, Ia jatuk ambruk. Kepalanya berdarah. Malam ini adalah saksi atas kejadian ini. Langit tengah melihatnya. Bintang adalah jutaan pasang mata bidadari yang bersedih dengan peristiwa ini. Bidadari yang menangis meratapi cinta yang dipandang dengan begitu sinis.
Aku berlari menghampiri tubuh Nadia. Aku sangat membenci semua orang yang ada di sini. Aku tidak  terima jika mereka memperlakukan wanita sekejam ini. Apakah mereka itu adalah malaikat suci. Kurengkuh tubuh Nadia. Tercium bau darah yang masih segar. Darah itu mengaliri wajahnya yang teduh. Matanya tertutup. Mulutnya terkatup. Mulut yang selalu berani berteriak menentang ketidakjujuran.
“Abduh, apa yang kau lakukan ?!.” Seorang meneriakiku. Memegang dan menyeretku agar tidak menyentuh Nadia. “Biarkan dia, kau sungguh bodoh jika menolong perempuan jalang ini.”
Aku tidak sudih dengan tangan yang mecoba menarikku. Aku ingin Nadia. Aku ingin dia. Aku ingin melihatnya tersenyum. Aku ingin melihatnya berjalan di depan rumahku lagi. Aku ini Nadia bukan pertolongan mereka. Nadia, oh... Nadia. Ia terluka dan menutup mata. Aku berjanji akan membuatnya bahagia. Aku tidak akan lagi membiarkannya menanggung ini sendirian. Aku tidak mau. Aku akan melakukan segala yang ia mau. Aku akan memberikan apa yang ia perlu. Aku akan memberikan semua hidupku padanya. Aku tidak mau kehilangan Nadia-ku. Aku ingin ia merasa bangga mempunyai calon suami sepertiku. Aku ingin ia sadar. Aku ingin dia bangun.
“Mas... Maafkan aku yang telah banyak membuatmu malu selama ini. Jika yang kuperbuat ini salah maafkan aku, Mas. Maafkanlah aku... . Hanya  ini yang bisa aku berikan padamu. Aku mencinntaimu, Mas.” Itulah kata terakhirnya.
*****
Mengenai siapa aku bagi Nadia dan bagaimana sebenarnya Nadia dan cintanya, silahkan tunggu pada tulisan selanjutnya.